Identifikasi Manfaat Ekonomi Sumberdaya Hutan
Makalah
Praktikum Ekonomi Sumber Daya Hutan
Medan, 26 Maret 2021
IDENTIFIKASI MANFAAT EKONOMI SUMBERDAYA HUTAN
Dosen Penanggung Jawab:
Dr. Agus Purwoko, S. Hut., M. Si
Disusun Oleh :
|
Jonathan Roy Putra Hutapea |
161201078 |
|
Dita Pebrianti Simamora |
191201051 |
|
Christabel Philothra
Tarigan |
191201053 |
|
Toba Wijaya Lumbantoruan |
191201054 |
|
Aurelia
Teresa Br. Siregar |
191201059 |
|
Novita Sari Rumahorbo |
191201111 |
|
Louis |
191201113 |
Kelompok 7
HUT 4C
PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2021
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa
yang telah memberikan rahmat kepada penulis
sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.
Adapun makalah ini yang berjudul “Identifikasi Manfaat Ekonomi
Sumberdaya Hutan”, makalah ini merupakan salah satu syarat untuk dapat
mengikuti praktikum Ekonomi Sumber Daya Hutan, Program Studi Kehutanan,
Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.
Dalam penulisan makalah ini, penulis
mengucapkan terima kasih kepada dosen penanggung jawab yaitu Bapak Dr. Agus
Purwoko, S. Hut., M. Si yang telah
memberikan pelajaran dan bimbingannya dan kepada asisten praktikum yang telah
membimbing kami dalam pengerjaan makalah. Dalam penulisan makalah ini, penulis
menyadari bahwa makalah ini belum sempurna. Oleh karena itu, penulis
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah
ini.
Akhir kata, penulis mengucapkan
terima kasih. Semoga makalah ini dapat menjadi sumber informasi kepada setiap
pembaca.
Medan, 26 Maret 2021
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hutan tropis Indonesia mempunyai keanekaragaman hayati yang tinggi
yang berpotensi tinggi untuk dimanfaatkan hutan mempunyai berbagai jenis
manfaat yang dapat diusahakan dan juga diminati oleh masyarakat baik berwujud
nyata atau tidak nyata sampai saat ini masyarakat masih dominan dengan
pemanfaatan berwujud nyata karena lebih banyak memberikan keuntungan bagi
pengusaha daripada masyarakat pengelola pengelolaan hutan hal ini dapat dilihat
dari keadaan ekonomi dan sosial masyarakat sehingga hutan masih tertinggal
dibandingkan dengan para pendatang yang bekerja pada perusahaan perusahaan kayu
(Hani, 2011).
Hutan merupakan salah satu sumber daya yang memiliki peran
penting bagi kehidupan manusia selain berperan sebagai penyangga kehidupan
flora dan fauna dalam keseimbangan ekosistem hutan juga merupakan bentuk
kekayaan alam yang menjadi sumber devisa suatu negara memasuki era globalisasi
percepatan pertumbuhan ekonomi meningkat kebutuhan baik di bidang pertanian,
infrastruktur kebutuhan lahan maupun sektor lainnya peningkatan kebutuhan
tersebut menyebabkan tekanan terhadap hutan semakin tinggi hutan mangrove
sebagai salah satu ekosistem hutan yang paling produktif di dunia juga
mengalami tekanan yang sama fungsi ekonomi hutan mangrove yaitu sebagai sumber
kayu hasil, perikanan, pertanian (Dandy et
al., 2016).
Sumber daya alam mempunyai peran penting dalam kelangsungan hidup manusia. Maka dari itu, pengelolaan terhadap sumber daya alam harus sangat bijaksana karena diperlukan waktu yang cukup lama untuk bisa memulihkan kembali apabila telah terjadi kerusakan atau kepunahan pengelolaan secara bijaksana yaitu pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya yang optimal dan berwawasan lingkungan agar sumber daya alam yang ada tetap lestari besarnya manfaat yang ada pada ekosistem hutan mangrove memberikan konsekuensi bagi ekosistem hutan mangrove itu sendiri yaitu dengan semakin tingginya tingkat eksploitasi terhadap lingkungan yang tidak jarang berakhir pada degradasi lingkungan yang akan parah sebagai contoh yaitu berkurangnya luas hutan mangrove (Benu et al., 2011).
Nilai ekonomi sumber daya hutan baru disadari ketika semakin langka keberadaannya dan kesejahteraan manusia menjadi terganggu konsumsi beberapa manfaat sumber daya hutan seperti hidrologis biologis dan estetika terjadi tidak melalui mekanisme pasar selain daripada itu manfaat hutan ada juga yang diminati sendiri oleh masyarakat secara tradisional pemanfaatan tersebut secara ekonomi dapat merupakan pemenuhan sebagian kebutuhan hidup sehingga dapat dikatakan bahwa produk barang dan jasa hutan dimaksud dinikmati tetapi tidak dipasarkan pemanfaatan yang masih terbatas dan tidak diperjualbelikan di pasar menyebabkan penilaian sebagian barang dan jasa hasil sumber daya hutan tidak dapat dilakukan secara memuaskan dengan pendekatan pasar yang ada secara langsung (Munandar, 2016).
1.2 Rumusan Masalah
1.
Apa yang dimaksud dengan ekonomi
sumberdaya hutan?
2.
Apa yang dimaksud dengan
manfaat tangible dan intangible dari pohon ?
3.
Bagaimana manfaat ekonomi
sumberdaya hutan berupa tangible dan intangible dari pohon kemiri (Aleurites
moluccana) ?
4. Bagaimana manfaat ekonomi sumberdaya hutan berupa tangible dan intangible dari pohon akasia (Acacia mangium) ?
5. Bagaimana manfaat ekonomi sumberdaya hutan berupa tangible dan intangible dari pohon suren (Toona sureni)?
1.3 Tujuan
1.
Untuk mengetahui pengertian ekonomi
sumberdaya hutan.
2.
Untuk mengetahui pengertian
manfaat tangible
dan intangible.
3.
Untuk mengetahui manfaat ekonomi
sumberdaya hutan berupa tangible dan intangible dari pohon kemiri (Aleurites
moluccanus).
4.
Untuk mengetahui manfaat
ekonomi sumberdaya hutan berupa tangible dan intangible dari pohon akasia (Acacia mangium).
5.
Untuk mengetahui manfaat
ekonomi sumberdaya hutan berupa tangible dan intangible dari pohon suren (Toona sureni).
BAB II
ISI
2.1 Ekonomi Sumberdaya Hutan
Ilmu ekonomi adalah ilmu yang
mempelajari tentang tingkah laku manusia dalam melakukan pilihan dari berbagai
alternatif. Dengan demikian, Ekonomi Sumberdaya Hutan adalah ilmu yang
mempelajari tingkah laku manusia dalam memanfaatkan sumberdaya hutan, sehingga
fungsinya dapat dipertahankan dan ditingkatkan dalam jangka panjang. ekonomi
sumberdaya hutan sangat mendasar posisinya dalam pengelolaan hutan, tanpa
pertimbangan atau analisis ekonomi efisiensi pengelolaan hutan akan sukar
tercapai. Analisis ekonomi sumberdaya hutan dapat diketahui apa yang
diusahakan, berapa jumlahnya, waktu tanam, waktu panen, serta harga jual
sehingga pengelolaan hutan dapat menguntungkan dan berkesinambungan.
Pertimbangan ekonomi tidak hanya pada kegiatan pemanfaatan hasil hutan, tetapi
juga kegiatan konservasi dan rehabilitasi hutan dalam upaya meningkatkan jasa
lingkungan dari hutan (Alam et al.,
2009).
2.2 Manfaat Tangible dan Intangible
Sumberdaya
hutan Indonesia menghasilkan berbagai manfaat yang dapat dirasakan pada
tingkatan local, nasional, maupun global. Manfaat tersebut terdiri dari manfaat
nyata yang terukur (tangible) berupa
hasil hutan kayu, hasil hutan non kayu seperti rotan, bamboo, damar dan
lain-lain serta manfaat tidak terukur (intangible)
berupa manfaat perlindungan lingkungan, keragaman genetic. Dengan diketahuinya
manfaat sumberdaya hutan maka dapat dijadikan rekomendasi bagi para pengambil
kebijakan untuk mengalokasikan sumberdaya alam yang semakin langka dan
melakukan distribusi manfaat sumberdaya hutan yang adil. Manfaat sumberdaya
hutan sendiri tidak semua memiliki harga pasar (Nurfatriani, 2006).
Sumberdaya alam mempunyai peran
penting dalam kelangsungan hidup manusia. Pengelolahan terhadap sumberdaya
hutan harus sangat bijaksana. Pengelolaan secara bijaksana yaitu pemanfaatan
dan pengelolaan secara optimal dan berwawasan lingkungan agar sumberdaya hutan
yang ada tetap lestari. Besarnya manfaat yang ada pada ekosistem hutan,
memberikan konsekuensi tinggi bagi hutan itu sendiri, yaitu dengan semakin
meningkatnya tingkat eksploitasi terhadap lingkungan yang tidak jarang berakhir
pada degradasi lingkungan yang cukup parah. Hal tersebut disebabkan karena
masih banyak pihak yang belum memahami nilai dari berbagai manfaat sumberdaya
hutan secara komprehensif (Benu et al., 2011).
2.3 Manfaat Tangible dan Intangible pohon kemiri (Aleurites moluccana)
Kemiri (Aleurites moluccana (L.) Willd) adalah salah satu pohon serbaguna yang sudah dibudidayakan secara luas di dunia. Berdasarkan berbagai sumber, kemiri merupakan jenis asli Indo-Malaysia dan sudah diintroduksikan ke Kepulauan Pasifik sejak zaman dahulu. Di Indonesia, kemiri dikenal dengan banyak penamaan lokal diantaranya, kembiri, gambiri, hambiri (Batak), kemili (Gayo), kemiling (Lampung), buah kareh (Minangkabau, Nias), keminting (Dayak), muncang (Sunda) dan miri (Jawa).Kemiri tergolong pohon berukuran sedang dengan tajuk lebar. Tanaman ini dapat mencapai ketinggian hingga 20 m dan diameter hingga 90 cm. Pada tempat terbuka, jenis ini umumnya hanya dapat mencapai ketinggian pohon 10–15 m. Umumnya bentuk cabang pohon kemiri adalah berliku, tidak teratur, membentang lebar dan menggantung pada cabang bagian samping.Kulit batangnya berwarna abu-abu coklat dan bertekstur agak halus dengan garis-garis vertikal. Daunnya mudah dikenali dari bentuknya yang khas, umumnya terdiri dari 3–5 helai daun dari pangkal, berselang-seling dan pinggir daun bergelombang. Tangkainya mengeluarkan getah manis. Buah kemiri berwarna hijau sampai kecoklatan, berbentuk oval sampai bulat dengan panjang 5–6 cm dan lebar 5–7 cm. Satu buah kemiri umumnya berisi 2–3 biji, tetapi pada buah jantan kemungkinan hanya ditemukan satu biji. Biji kemiri dapat dimakan jika dipanggang terlebih dahulu. Kulit biji kemiri umumnya kasar, hitam, keras dan berbentuk bulat panjang sekitar 2,5–3,5 cm.
Di Indonesia kemiri telah lama ditanam, baik untuk tujuan komersial maupun subsisten untuk menunjang kehidupan masyarakat sehari-hari. jenis ini digunakan untuk berbagai tujuan yakni bijinya dapat digunakan sebagai bahan media penerangan masakan dan obat-obatan sedangkan batangnya dapat digunakan untuk kayu produk utama pohon kemiri adalah kemiri isi namun bagian-bagian lainnya pun dapat memanfaatkan buah kemiri ini memiliki banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari sering digunakan untuk keperluan bumbu dapur isi kemiri juga dapat digunakan untuk obat-obatan dan kecantikan dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi dan bahan bakar nabati. Sedangkan manfaat intangible yaitu sebagai produk jasa lingkungan (pengatur tata air dan penyerapan karbon).
2.4 Manfaat Tangible dan Intangible Pohon Akasia (Acacia mangium)
Kayu akasia merupakan salah satu jenis
pohon yang dapat tumbuh dengan baik di segala cuaca karena jenis pohon ini
tidak tergantung pada jenis tanah maupun iklim. Pohon akasia termasuk ke dalam
salah satu jenis pohon yang paling umum digunakan dalam program pembangunan
hutan tanaman di Asia dan Pasifik. Kayu gubal akasia tipis dan berwarna terang.
Serat kayunya lurus hingga bertautan dangkal, teksturnya agak halus dan
seragam. Kerapatan kayunya beragam mulai dari 450 hingga 690 kg/m3.
Indonesia
merupakan salah satu negara tropis yang memiliki hutan yang sangat luas.
Hutan-hutan ini tersebar di seluruh wilayah Indonesia dan menghasilkan kayu
yang memiliki banyak manfaat. Salah satu kayu yang jumlahnya melimpah di
Indonesia adalah kayu akasia. Pemanfaatan utama dari kayu akasia ini adalah menjadi
bahan baku untuk industri pulp and paper yang mengolah bahan baku berupa kayu
menjadi pulp (bubur kertas) untuk selanjutnya dibuat menjadi kertas. Kayu
akasia dapat dijadikan bahan baku untuk pembuatan asap cair. Semakin tinggi
temperatur maka semakin banyak volume asap cair yang dihasilkan dari proses
pirolisis. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa volume asap yang paling
banyak dihasilkan pada sampel nomor 3 dengan kondisi temperatur 400 °C. Dan
yang paling rendah volumenya adalah pada sampel nomor temperatur 200 °C.
Semakin lama waktu pirolisis maka semakin banyak pula jumlah asap cair yang
didapatkan. Pada penelitian ini dengan kondisi operasi 90 menit pirolisis
diperoleh hasil asap cair yang lebih banyak.
Akar Acaci mangium berfungsi sebagai pemasok air, mineral dan
bahan-bahan yang penting untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
Pertumbuhan akar pada mangium diduga dapat meningkatkan jumlah pasokan
bahan-bahan yang berperan dalam proses fotosintesis yang pada akhirnya dapat
meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Rata-rata berat kering
tanaman terbesar dihasilkan oleh semai mangium, karena semai mangium mampu
mengikat nitrogen lebih besar dibandingkan spesies lainnya. Berat kering akan
bertambah dengan semakin bertambahnya kandungan nitrogen dan phospor dalam
tanah.
2.5 Manfaat Tangible dan Intangible Pohon Suren (Toona sureni)
Kayu teras suren (Toona sureni) berwarna
merah pucat sampai merah dan lama kelamaan berubah menjadi merah kecoklatan,
mudah dibedakan dengan gubalnya berwarna putih keabu-abuan. Arah seratnya lurus
sampai berpadu dan teksturnya agak kasar. Pola penyebaran sel pembuluh
tata lingkar menyebabkan kayu suren menampilkan corak dekoratif unik. Pori
sebagian soliter dan bergabung radial sampai miring terdiri 2-3 pori, berisi endapan
berwarna merah. Parenkim aksial tersusun atas parenkim selubung sampai bentuk
pita marginal. Parenkim jari-jarinya agak sempit sampai lebar, frekuensinya,
agak jarang dan tergolong berukuran pendek. Berat jenis kayu suren 0,37 (0,27-
0,67), kelas kekuatan kayu suren di tingkat IV dan Kelas Awet kayu suren di
tingkat IV-V.
Pohon suren
sangat cocok tumbuh di ketinggian 350-2.500 m dpl, cepat tumbuh dan dapat
hidup di lahan yang memiliki pH rendah. Kayunya memiliki sifat rekat yang sangat
baik dan kulitnya sebagai nanofiller berfungsi untuk memperbaiki
kualitas perekatan. Suren (Toona sureni (Juss.) M.
Roem.) merupakan pohon yang cepat tumbuh dan memiliki nilai jual yang tinggi
sehingga disebut sebagai jenis pohon
serbaguna (JPSG). Semua bagian tanaman suren dapat dimanfaatkan. Kayu suren banyak
digunakan untuk keperluan pertukangan, akar dan kulitnya dapat dimanfaatkan
untuk obat diare, sementara daun mudanya dimanfaatkan sebagai sayuran dan dapat
diproses menjadi insektisida alam. Tanaman suren
cocok ditanam pada lahan kritis karena kemampuannya dalam menyesuaikan dengan
karakter fisik tanah marginal. Penanaman pohon suren yang dilakukan oleh
masyarakat di lahan sebagai naungan tanaman semusim, pemecah angin dan
kebanyakan dibuat sebagai pembatas lahan. Kulit batang dan buah suren dapat
disuling menjadi minyak esensial, dan masyarakat setempat turun temurun secara
umum memakai hasil kayu dari Pohon suren untuk diolah menjadi papan dan broti.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Hutan merupakan salah satu sumber daya yang memiliki peran penting bagi kehidupan manusia selain berperan sebagai penyangga kehidupan flora dan fauna dalam keseimbangan ekosistem hutan.
2. Nilai ekonomi sumber daya hutan baru disadari ketika semakin langka keberadaannya dan kesejahteraan manusia menjadi terganggu konsumsi beberapa manfaat sumber daya hutan.
3. Kayu akasia merupakan salah satu jenis pohon yang dapat tumbuh dengan baik di segala cuaca.
4. Biji Kemiri dapat digunakan sebagai bahan media penerangan masakan dan obat-obatan sedangkan batangnya dapat digunakan untuk kayu produk utama pohon kemiri adalah kemiri.
5. Pohon ini memiliki nilai jual kayu yang sangat tinggi. Semua bagian tanaman suren dapat dimanfaatkan.
3.2 Saran
Sebaiknya masyarakat lebih mengenal spesies-spesies
yang berada di sekitarnya sehingga potensi daripada spesies tersebut dapat
dimaksimalkan.
DAFTAR PUSTAKA
Alam S, Supratman AM. 2009. Ekonomi
Sumberdaya Hutan. Fakultas Kehutanan, Universitas Hasanuddin.
Alam
S. 2007. Analisis Deskriptif Pola Konversi Hutan Kemiri Rakyat (HKR) di
Kabupaten Maros. Jurnal Hutan dan
Masyarakat, 2(1): 136-144.
Azhary
HS, Mayang SR, Debby P. 2013. Pembuatan Asap Cair dari Kayu Akasia dan Uji Awal
Kemampuannya Sebagai Bahan Bakar Cair. Jurnal
Teknik Kimia, 19(4): 38-44.
Benu OL, Jean T, Rine K, Fandi A. 2011.
Valuasi Ekonomi Sumber Daya Hutan Manggrove di Desa Palaes Kecamatan Likupang
Barat Kabupaten Minahasa Utara. Jurnal
Agri Sosioekonomi, 7 (2): 29-38
Dandy EP, Firman Z, Shinta, Iskandar Z. 2016.
Valuasi Ekonomi di Hutan Manggrove di Pulau Untung di Jawa Kepulauan Seribu:
Studi Berbasis Green. Jurnal Akuatika,
12 (1): 48-54
Hani A. 2011. Pengembangan Tanaman Hasil
Hutan Melalui Perbanyakan Vegetatif.
Jurnal Tekno Hutan Tanaman, 2(2): 82-92
Latifah S, Sima HM, Purwoko
A. 2020. Kajian Manfaat dan Kelayakan Ekonomi Budi Daya Suren Pada Masyarakat
Desa Sipolha Horison, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara (Study of
the Benefits and Economic Feasibility of Suren Cultivation in Sipolha Horison
Village, Simalungun Regency, North Sumatera Province). Jurnal
Penelitian Hutan Tanaman, 17(2):
87-99.
Munandar M. 2016. Valuasi Ekonomi Pemanfaatan
Hasil Hutan yang tidak dapat dipasarkan pada kawasan Hutan Lindung Taman Hutan
Raya Sultan Adam Kalimantan Selatan. Jurnal
Hutan Tropis, 4(2): 109-119.
Nufatriani F. 2006. Konsep Nilai Ekonomi
Total dan Metode Penilaian Sumberdaya Hutan. Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan, 3(1): 1-16.
Pandit IKN, Nandika D, Darmawan IW.
2011. Analisis Sifat Dasar Kayu Hasil Hutan Tanaman Rakyat. Jurnal Ilmu
Pertanian Indonesia, 16(2):
119-124.
Yanti
M, Indriyanto I, Duryat D. 2016. Pengaruh Zat Allelopati Dari Alang-Alang
Terhadap Pertumbuhan Semai Tiga Spesies Akasia. Jurnal Sylva Lestari, 4(7): 27-38.

Komentar
Posting Komentar