Makalah Praktikum Ekonomi Sumber Daya Hutan                                                 Medan, 19 Maret 2021

MENANAM POHON BERNILAI EKONOMI TINGGI

Dosen Penanggung Jawab:

Dr. Agus Purwoko, S. Hut., M. Si

Disusun Oleh :

Jonathan Roy Putra Hutapea

161201078

Dita Pebrianti Simamora

191201051

Christabel Philothra Tarigan

191201053

Toba Wijaya Lumbantoruan

191201054

Aurelia Teresa Br. Siregar

191201059

Novita Sari Rumahorbo

191201111

Louis

191201113

 

Kelompok 7

HUT 4C

 


 



 


 

 

  

PROGRAM STUDI KEHUTANAN

FAKULTAS KEHUTANAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN


2021



Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat kepada penulis  sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Adapun makalah ini yang berjudul “Menanam Pohon Bernilai Ekonomi Tinggi”, makalah ini merupakan salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikum Ekonomi Sumber Daya Hutan, Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.

          Dalam penulisan makalah ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen penanggung jawab yaitu Bapak Dr. Agus Purwoko, S. Hut., M. Si  yang telah memberikan pelajaran dan bimbingannya dan kepada asisten praktikum yang telah membimbing kami dalam pengerjaan makalah. Dalam penulisan makalah ini, penulis menyadari bahwa makalah ini belum sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.

          Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih. Semoga makalah ini dapat menjadi sumber informasi kepada setiap pembaca.

 

 

 Medan, 19 Maret 2021

 

 

                                                                                           Penulis

 

 

 

 

DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR.. i

DAFTAR ISI ii

BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang. 1

1.2 Rumusan Masalah. 2

1.3 Tujuan. 2

BAB II. ISI

2.1 Pengertian dari Pohon Bernilai Ekonomi Tinggi 3

2.2 Jenis Pohon dapat Dikatakan Bernilai Ekonomi Tinggi 3

2.3 Bagaimana Menanam Pohon Bernilai Ekonomi Tinggi 3

2.4 Yang Termasuk Pohon Bernilai Ekonomi Tinggi 4

2.5 Potensi Produk Yang Dihasilkan Spesies Bernilai Ekonomi Tinggi 5

BAB III. PENUTUP

3.1 Kesimpulan. 7

3.2 Saran. 7

DAFTAR PUSTAKA

 


 



PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

            Indonesia   sangat   berpotensi   menjadi   negara   penyerap   emisi   karbon   karena   Indonesia mempunyai  kawasan  hutan tropis  yang  luas, dimana vegetasi hutan  merupakan salah satu faktor yang dapat  menurunkan  akumulasi  CO2  di  atmosfer  melalui  penyerapan oleh  vegetasi. Potensi  tersebut bahkan  dapat  lebih  ditingkatkan  dengan  upaya  penanaman  jenis  pada  hutan  yang rusak. Sengon  sebagai  komoditi  ekonomi  dalam  hutan  rakyat  yang  dianggap  cukup prospektif dan menjanjikan dari aspek finansial, pada kenyataannya masih terkendala oleh permasalahan produktivitas (Heru et al., 2019).

Nilai kayu sengon (Paraserianthes falcataria (L) Nielsen) bagi sebagian besar penduduk yang bermukim   di   wilayah   Kabupaten   Wonosobo   memiliki   peran   penting, karena   hasilnya   mampu memberikan   konstribusi   finansial   dalam   menunjang   pendapatan   keluarga   petani.   Oleh  karena peranannya  yang  positif  tersebut,  diduga  lebih  dari  50  %  jumlah  kecamatan  yang  berada  di  wilayah Kabupaten Wonosobo merupakan daerah sentra produksi kayu sengon rakyat. Pertumbuhan  penduduk   dan   tuntutan   kualitas   serta   kuantitas   pangan,   papan   dan  energi  telah menyebabkan   manusia   memanfaatkan   sumber   daya   alam   melebihi kapasitasnya. Peningkatan kebutuhan hidup tersebut tercermin dari perubahan antara lain  meliputi peningkatan penggunaan energi dari  bahan  bakar  fosil  maupun  perubahan  penggunaan  lahan.  Kedua  hal  tersebut  dapat  menyebabkan peningkatan  panas  global  yang  selanjutnya  menyebabkan  perubahan  iklim  global, serta  terjadinya peningkatan luasan lahan kritis (Irundu et al., 2018).

Rendahnya pemahaman masyarakat desa tentang optimalisasi pengelolaan hutan rakyat secara berkelanjutan mengakibatkan banyak masyarakat di Desa Mirring yang masih berada pada garis kemiskinan. Sejauh ini masyarakat di desa ini menanam pohon hanya untuk mempersiapkan bahan baku kontruksi rumah saja. Sehingga sistem tanam, daur dan rotasi tanam tidak ditemukan pada sistem pengelolaan hutan rakyat tersebut. Hal mendasar yang masyarakat tidak pahami adalah nilai ekonomi langsung dari hutan rakyat yang dapat memberikan jaminan pendapatan bila hutan rakyatnya dikelolah dengan baik dan berkesinambungan. Beberapa petani hanya mengetahui nilai ekonomi langsung dari tanaman perkebunan seperti kakao, langsat, durian dan cengkeh. Pendapatan petani hutan terbagi atas dua yakni pendapatan dari luar hutan berupa olah lahan perkebunan dan pendapatan dari dalam hutan melalui sistem Agroforestri. Sehingga sejatinya hutan rakyat dapat menjadi solusi permasalahan kemiskinan masyarakat desa melalui pengelolaan hutan rakyat secara optimal (Heru et al., 2019).

            Secara ekonomi, kayu dari pohon ficus termasuk dalam keawetan yang rendah (kelas IV) serta kelas kuat yang rendah juga sehingga tidak dapat dimanfaatkan secara langsung untuk perkakas. Hal ini berbeda saat ficus masih hidup. Ficus berupa pohon bisa mencapai tinggi 35 meter dengan tajuk yang sangat lebar dan memiliki buah yang banyak sehingga jenis beringin-beringinan ini dikenal sebagai habitat banyak burung, reptil, serangga dan mamalia. Ficus merupakan marga terbesar Famili Moraceae yang banyak dijumpai di Indonesia, baik di dataran tinggi maupun di dataran rendah. Tumbuhan Ficus merupakan salah satu genus tumbuhan yang paling penting di kawasan tropis dataran rendah termasuk di kawasan karst (Baskara et al., 2013).

1.2 Rumusan Masalah

1 . Apa pengertian pohon bernilai ekonomi tinggi ?

2 . Bagaimana suatu jenis pohon dapat dikatakan bernilai ekonomi tinggi ?

3 . Bagaimana menanam pohon bernilai ekonomi tinggi ?

4 . Apa saja yang termasuk pohon bernilai ekonomi tinggi ?

5 . Bagaimana potensi dari produk yang dihasilkan oleh spesies pohon bernilai

     ekonomi tinggi tersebut ?

1.3 Tujuan

1.     Untuk mengetahui pengertian pohon bernilai ekonomi tinggi.

2.     Untuk mengetahui dan mengenali jenis pohon dapat dikatakan bernilai ekonomi tinggi.

3.     Untuk mengetahui cara menanam pohon bernilai ekonomi tinggi.

4.     Untuk mengetahui apa sajakah yang termasuk pohon bernilai ekonomi tinggi.

5.     Untuk mengetahui potensi produk yang dihasilkan oleh spesies tersebut.




ISI

2.1 Pengertian dari Pohon Bernilai Ekonomi Tinggi

        Pohon bernilai ekonomi tinggi adalah pohon yg dapat dimanfaatkan baik daun, akar, maupun batang yang memiliki harga jual tinggi dan dapat menjadi penghasil devisa baik untuk negara maupun individu.

2.2 Jenis Pohon dapat Dikatakan Bernilai Ekonomi Tinggi

        Dalam suatu komunitas tumbuhan hutan terjadi interaksi antar spesies anggota populasi. Misalnya ada spesies tumbuhan yang harus hidup menumpang pada tumbuhan lain, ada pula yang membutuhkan naungan dari tumbuhan lain untuk hidup, sehingga mereka dapat tumbuh berdampingan membentuk sebuah komunitas hutan. Hubungan ketertarikan untuk tumbuh bersama ini dikenal dengan asosiasi, yang dapat bersifat positif, negatif, atau tidak berasosiasi. Asosiasi positif terjadi bila suatu jenis tumbuhan hadir bersamaan dengan jenis tumbuhan lainnya; atau pasangan jenis terjadi lebih sering daripada yang diharapkan. Asosiasi negatif terjadi bila suatu jenis tumbuhan tidak hadir bersamaan dengan jenis tumbuhan lainnya; atau pasangan jenis terjadi kurang daripada yang diharapkan. Informasi ini penting sebagai bahan pertimbangan dalam upaya untuk mengoptimalkan budidaya eboni. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui asosiasi jenis eboni (Diospyros spp.) dengan pohon-pohon dominan di CA.Tangkoko pada ketinggian dibawah 500 m dpl dan diatas 500 m dpl. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari asosiasi antara eboni (Diospyros spp.).

2.3 Bagaimana Menanam Pohon Bernilai Ekonomi Tinggi

            Komoditas unggulan yang akan dikembangkan harus memiliki fungsi konservasi, kesesuaian tempat tumbuh, dan memiliki nilai ekonomi tinggi untuk menunjang kesejahteraan masyarakat. Agroforestri adalah sistem penggunaan lahan yang mengkombinasikan pepohonan dengan tanaman pertanian pada waktu yang sama dan simultan untuk meningkatkan keuntungan, baik secara ekonomis maupun lingkungan. Sistem agroforestri bertujuan untuk mempertahankan jumlah dan keragaman produksi lahan, sehingga berpotensi memberikan manfaat sosial, ekonomi dan lingkungan bagi para pengguna lahan. Pada sistem ini, terciptalah keanekaragaman tanaman dalam suatu luasan lahan sehingga akan mengurangi risiko kegagalan dan melindungi tanah dari erosi serta mengurangi kebutuhan pupuk atau zat hara dari luar kebun karena adanya daur ulang sisa tanaman. Tanaman aren sangat cocok pada kondisi landai dengan kondisi agroklimat beragam seperti daerah pegunungan dimana curah hujan tinggi dengan tanah bertekstur liat berpasir.

2.4 Yang Termasuk Pohon Bernilai Ekonomi Tinggi

·       Pohon Kapur (Dryobalanops aromatic)

 Kapur merupakan penghasil kayu penting karena bernilai ekonomi tinggi. Kayu kapur yang berukuran sedang cocok untuk bangunan konstruksi, untuk membuat tiang, perkapalan, lantai, perabotan, panel jendela, pintu, dinding, dan gerbong kereta. Kapur juga menghasilkan kristal kapur dan oleoresin yang digunakan untuk pengobatan tradisional. Dryobalanops spp. Dikelompokan dalam suku Dipterocarpaceae. Penyebarannya mulai dari Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau dan seluruh Kalimantan. Dryobalanops juga dikenal dengan nama Kapur, diantaranya yang penting adalah: D. aromatica Gaertn. (Kapur singkel), D. fusca V.Sl. (Kapur empedu), D. lanceolata Burck (Kapur tanduk), D beccarii Dyer (Kapur sintuk), D. rappa Becc. (Kapur kayat), D. keithii Symington (kapur gumpait), dan D. oblongifolia Dyer atau kapur keladan.

·       Pohon Kayu Manis (Cinnamomum verum)

Kayu manis merupakan salah satu rempah-rempah yang paling banyak digunakan sejak dahulu kala. Dikenal dengan aroma khasnya yang memberikan cita rasa unik pada masakan, serta berbagai khasiat kandungannya bagi kesehatan, kayu manis menjadi salah satu jenis rempah-rempah favorit di dunia. Sebagian negara bahkan menyebut kayu manis sebagai “The Taste of Life”. Tanaman kayu manis mempunyai sifat khas pedas, agak manis dan menghangatkan yang berkhasiat analgesik, stomakik serta aromatik.

Khasiat lain dari kayu manis adalah memiliki aktivitas antioksidan karena didalam ekstrak kayu manis terdapat senyawa sinamaldehid, eugenol, trans asam sinamat, senyawa fenol, dan tanin. Antioksidan merupakan senyawa yang mampu mencegah ketengikan dan menghambat reaksi oksidasi pada bahan yang mengandung lemak atau minyak. Penambahan kayu manis pada selai bertujuan sebagai antioksidan alami dan pengawet alami makanan. Kayu manis juga merupakan rempah-rempah untuk bahan masakan.

Kayu manis mengandung minyak atsiri yang mempunyai daya bunuh terhadap mikroorganisme (antiseptis), membangkitkan selera atau menguatkan lambung juga memiliki efek untuk mengeluarkan angin. Dalam pengolahan bahan makanan dan minuman minyak kayu manis di gunakan sebagai pewangi atau peningkat cita rasa, diantaranya untuk minuman keras, minuman ringan (softdrink), agar–agar, kue, kembang gula, bumbu gulai dan sup. Banyak hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan nilai produk kayu manis. Cara yang paling sederhana adalah dengan mengeringkan kayu manis dan menumbuknya menjadi serbuk. Serbuk tersebut bisa digunakan secara langsung untuk memberikan cita rasa dan aroma pada makanan, khusus nya pada selai.

·        Kayu ulin (Eusideroxylon zwageri)

Kayu ulin sangat kuat dan awet, sehingga digolongkan dalam kelas kuat dan kelas awet I. Kayu ulin digunakan untuk berbagai keperluan, seperti pondasi bangunan di dalam air dan lahan basah, atap rumah (sirap) dan tiang. Di Banjarmasin fosil kayu ulin dijadikan batu cincin dan perhiasan.

Permintaan kayu ulin semakin meningkat seiring dengan laju pertambahan penduduk dan pesatnya pembangunan gedung dan perumahan. Kondisi ini mengancam kelestarian pohon ulin, karena sumber bahan baku kayu ulin hanya diambil dari hutan alam tanpa memperhatikan kelestariannya. Potensi kayu ulin pada awalnya cukup besar dan mudah ditemui di hutan, namun saat ini sudah semakin menipis bahkan pada beberapa tempat sudah langka dan sulit ditemukan

2.5 Potensi Produk Yang Dihasilkan dari Spesies Pohon Bernilai Ekonomi Tinggi

·       Pohon Kapur (Dryobalanops aromatic)

Kayu Dipterocarpaceae mempunyai nilai ekonomi yang tinggi, sehingga menguasai perdagangan kayu internasional, khususnya di Asia Tenggara. Selain kayunya, famili Dipterocarpaceae juga memiliki beberapa produk minor non kayu seperti minyak, damar, resin, dan kamper. Kamper (kapur barus) dihasilkan oleh Dryobalanops aromatica terutama di daerah Sumatera Utara dan Johor. Populasi jenis Dipterocarpaceae tak terkecuali kamper saat ini sedang mengalami degradasi yang sangat cepat. Hal ini disebabkan proses pembalakan yang terjadi secara terus menerus dengan skala besar, sehingga dapat berakibat terhadap keberadaan jenis tersebut. Saat ini Kapur termasuk salah satu tanaman langka di Indonesia .Bahkan International Union for the Concervations of Nature (IUCN) Red List memasukkannya dalam status konservasi vulnerable atau rentan. Status ini merupakan status keterancaman dengan tingkatan paling tinggi sebelum akhirnya dinyatakan punah.

·       Pohon Kayu Manis (Cinnamomum verum)

Minyak kayu manis merupakan salah satu minyak atsiri yang permintaannya cukup tinggi di pasar internasional. Minyak cengkih dihasilkan dari distilasi uap (penyulingan) bunga, tangkai, dan daun kayu manis. Spesifikasi minyak kayu manis tidak hanya ditentukan oleh kandungan eugenolnya, tetapi juga komponen lain seperti eugenol asetat dan kariofilen. Rata-rata produktivitas tanaman berkisar antara 40-60% dari potensi produksinya. Rendahnya produktivitas disebabkan petani menggunakan benih asalan serta tidak melakukan pemupukan maupun pengendalian organisme

pengganggu tanaman

·        Kayu ulin (Eusideroxylon zwageri)

Potensi  hutan  alam ulin  di  Pulau Kalimantan  saat  ini  menurun  secara  drastis dibandingkan dengan keadaan pada awal 1970-an. Potensi pohon ulin di hutan alam per hektar bervariasi antara 9,17-54 pohon. Penurunan  potensi disebabkan  berbagai faktor  seperti penebangan  pohon  ulin yang berdiameter kurang dari yang telah ditetapkan yaitu diameter 50 cm setinggi dada (1,30 m). Penyebab lainnya termasuk akses jalan ke hutan alam seiring dengan kegiatan pembalakan  oleh  perusahaan  yang  memiliki  ijin  HPH/IUPHHK.  Jenis  ulin tumbuh bersama  sama  dengan  jenis  Dipterocarpaceae seperti  meranti  merah,  meranti  putih, meranti kuning, bangkirai, kapur dan jenis rimba campuran (medang, nyatoh, dan lain-lain). Jenis-jenis pohon tersebut ditebang kecuali ulin  dan  jenis  yang  dilindungi seperti tengkawang.



PENUTUP

3.1 Kesimpulan

1.   Pohon bernilai ekonomi tinggi adalah pohon yg dapat dimanfaatkan baik daun , akar, maupun batang yang memiliki harga jual tinggi.

2.  Jenis pohon yang dapat dikatakan bernilai ekonomi  ialah memiliki kualitas kayu yang baik, hasil non kayunya merupakan bahan utama pembuatan suatu produk dan dapat dimanfaatkan sebagai obat.

3. Kondisi curah hujan, tekstur tanah dan cahaya matahari yang baik haruslah diperhatikan dalam penanaman pohon.

4.   Jenis pohon bernilai ekonomi tinngi ialah kayu kapur, kayu ulin dan kayu manis.

5.   Produk yang dihasilkan adalah kamper (kayu kapur), minyak atsiri (kayu manis) dan kayu ulin yang sangat dimanfaatkan untuk bahan industri kayu.

3.2 Saran

Sebaiknya praktikan menggunakan refrensi yang tepat untuk menunjang keakuratan informasi dalam makalah agar tidak menimbulkan kesalah pahaman bagi pembaca ataupun pengulas makalah.

 

 


DAFTAR PUSTAKA

Baskara M, Wicaksono KP. 2013. Tumbuhan Ficus: Penjaga KeberlanjutanBudaya dan Ekonomi di Lingkungan Karst. Prosiding Temu Ilmiah IPLBI.

Bustaman S. 2016. Potensi Pengembangan Minyak Daun Cengkih Sebagai Komoditas Ekspor Maluku. Jurnal Litbang Pertanian, 30(4): 132-139.

Ekaputri F. 2018. Pengaruh Perbandingan Kulit dan Sari Lemon dan Konsentrasi Kayu Manis Terhadap Karakteristik Selai Lemon (Citrus limon burm f.). Fakultas Teknik Universitas Pasundan, Bandung.

Harahap AS. 2018. Uji kualitas dan Kuantitas DNA Beberapa Populasi Pohon Kapur Sumatera. JASA PADI2(2): 1-6.

Heru DR, Susi A, Ragil BWMP. 2019. Kajian Sengon (Paraserianthes falcataria) Sebagai Pohon Bernilai Ekonomi dan Lingkungan. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman, 6(3): 201-208.

Irundu D, Arafat A, Rhamania. 2018. Nilai Ekonomi Langsung Berbagai Sistem Pengelolaan Hutan Rakyat di Desa Mirring, Kabupaten Polman, Sulawesi Barat. Jurnal Hutan dan Masyarakat, 10(1): 185-191.

Mayasari A, Kinho J, Suryawan A. 2012. Asosiasi Eboni (Diospyros spp.) Dengan Jenis-Jenis Pohon Dominan di Cagar Alam Tangkoko Sulawesi Utara. Info Balai Penelitian Kehutanan Manado2(1):15-72.

Pradjadinata S, Murniati M. 2014. Pengelolaan dan Konservasi Jenis Ulin (Eusideroxylon zwageri Teijsm. & Binn.) di Indonesia. Jurnal Penelitian  Hutan dan Konservasi Alam11(3), 205-223.

Purba PR. 2020. Aspek Ekologi dan Potensi Kapur (Dryobalanops aromatica) di Sumatera UtaraJurnal Akar9(2): 115-126.

Widiyatno W, Soekotjo S, Suryatmojo H, Supriyo H, Purnomo S, Jatmoko J. 2014. Dampak Penerapan Sistem Silvikultur Tebang Pilih Tanam Jalur Terhadap Kelestarian Kesuburan Tanah Dalam Menunjang Kelestarian Pengelolaan Hutan Alam (the Impact of Selective Cutting and Strip Planting System Implementation Toward Sustainability of Soil). Jurnal   Manusia dan Lingkungan21(1): 50-59.

Komentar