MENANAM POHON BERNILAI EKONOMI TINGGI
Dosen Penanggung Jawab:
Dr. Agus Purwoko, S. Hut., M. Si
Disusun Oleh :
|
Jonathan Roy Putra Hutapea |
161201078 |
|
Dita Pebrianti Simamora |
191201051 |
|
Christabel Philothra
Tarigan |
191201053 |
|
Toba Wijaya Lumbantoruan |
191201054 |
|
Aurelia
Teresa Br. Siregar |
191201059 |
|
Novita Sari Rumahorbo |
191201111 |
|
Louis |
191201113 |
Kelompok 7
HUT 4C
PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa
yang telah memberikan rahmat kepada penulis
sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.
Adapun makalah ini yang berjudul “Menanam Pohon Bernilai Ekonomi Tinggi”,
makalah ini merupakan salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikum Ekonomi
Sumber Daya Hutan, Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas
Sumatera Utara.
Dalam penulisan makalah ini, penulis
mengucapkan terima kasih kepada dosen penanggung jawab yaitu Bapak Dr. Agus
Purwoko, S. Hut., M. Si yang telah
memberikan pelajaran dan bimbingannya dan kepada asisten praktikum yang telah
membimbing kami dalam pengerjaan makalah. Dalam penulisan makalah ini, penulis
menyadari bahwa makalah ini belum sempurna. Oleh karena itu, penulis
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah
ini.
Akhir kata, penulis mengucapkan
terima kasih. Semoga makalah ini dapat menjadi sumber informasi kepada setiap
pembaca.
Medan,
19 Maret 2021
Penulis
DAFTAR ISI
BAB I. PENDAHULUAN
BAB II. ISI
2.1 Pengertian dari Pohon Bernilai Ekonomi Tinggi
2.2 Jenis Pohon dapat Dikatakan Bernilai Ekonomi Tinggi
2.3 Bagaimana Menanam Pohon Bernilai Ekonomi Tinggi
2.4 Yang Termasuk Pohon Bernilai Ekonomi Tinggi
2.5 Potensi Produk
Yang Dihasilkan Spesies Bernilai Ekonomi Tinggi
BAB III. PENUTUP
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia sangat
berpotensi menjadi negara
penyerap emisi karbon
karena Indonesia mempunyai kawasan
hutan tropis yang luas, dimana vegetasi hutan merupakan salah satu faktor yang dapat
menurunkan akumulasi CO2
di atmosfer melalui
penyerapan oleh vegetasi. Potensi tersebut bahkan dapat
lebih ditingkatkan dengan
upaya penanaman jenis
pada hutan yang rusak. Sengon sebagai
komoditi ekonomi dalam
hutan rakyat yang
dianggap cukup prospektif dan menjanjikan dari aspek finansial, pada
kenyataannya masih terkendala oleh permasalahan produktivitas (Heru et al., 2019).
Nilai kayu sengon (Paraserianthes falcataria (L) Nielsen)
bagi sebagian besar penduduk yang bermukim
di wilayah Kabupaten
Wonosobo memiliki peran
penting, karena hasilnya mampu memberikan konstribusi
finansial dalam menunjang
pendapatan keluarga petani.
Oleh karena peranannya yang
positif tersebut, diduga
lebih dari 50
% jumlah kecamatan
yang berada di
wilayah Kabupaten Wonosobo merupakan daerah sentra produksi kayu sengon
rakyat. Pertumbuhan penduduk dan
tuntutan kualitas serta
kuantitas pangan,
papan dan energi telah menyebabkan manusia memanfaatkan sumber
daya alam melebihi kapasitasnya. Peningkatan kebutuhan hidup tersebut
tercermin dari perubahan antara lain
meliputi peningkatan penggunaan energi dari bahan
bakar fosil maupun
perubahan penggunaan lahan.
Kedua hal tersebut
dapat menyebabkan
peningkatan panas global
yang selanjutnya menyebabkan
perubahan iklim global, serta terjadinya peningkatan
luasan lahan kritis (Irundu et al., 2018).
Rendahnya pemahaman masyarakat desa tentang optimalisasi pengelolaan hutan rakyat secara berkelanjutan mengakibatkan banyak masyarakat di Desa Mirring yang masih berada pada garis kemiskinan. Sejauh ini masyarakat di desa ini menanam pohon hanya untuk mempersiapkan bahan baku kontruksi rumah saja. Sehingga sistem tanam, daur dan rotasi tanam tidak ditemukan pada sistem pengelolaan hutan rakyat tersebut. Hal mendasar yang masyarakat tidak pahami adalah nilai ekonomi langsung dari hutan rakyat yang dapat memberikan jaminan pendapatan bila hutan rakyatnya dikelolah dengan baik dan berkesinambungan. Beberapa petani hanya mengetahui nilai ekonomi langsung dari tanaman perkebunan seperti kakao, langsat, durian dan cengkeh. Pendapatan petani hutan terbagi atas dua yakni pendapatan dari luar hutan berupa olah lahan perkebunan dan pendapatan dari dalam hutan melalui sistem Agroforestri. Sehingga sejatinya hutan rakyat dapat menjadi solusi permasalahan kemiskinan masyarakat desa melalui pengelolaan hutan rakyat secara optimal (Heru et al., 2019).
Secara ekonomi, kayu dari pohon ficus termasuk dalam keawetan yang rendah (kelas IV) serta kelas kuat yang rendah juga sehingga tidak dapat dimanfaatkan secara langsung untuk perkakas. Hal ini berbeda saat ficus masih hidup. Ficus berupa pohon bisa mencapai tinggi 35 meter dengan tajuk yang sangat lebar dan memiliki buah yang banyak sehingga jenis beringin-beringinan ini dikenal sebagai habitat banyak burung, reptil, serangga dan mamalia. Ficus merupakan marga terbesar Famili Moraceae yang banyak dijumpai di Indonesia, baik di dataran tinggi maupun di dataran rendah. Tumbuhan Ficus merupakan salah satu genus tumbuhan yang paling penting di kawasan tropis dataran rendah termasuk di kawasan karst (Baskara et al., 2013).
1.2 Rumusan Masalah
1 . Apa
pengertian pohon bernilai ekonomi tinggi ?
2 .
Bagaimana suatu jenis pohon dapat dikatakan bernilai ekonomi tinggi ?
3 .
Bagaimana menanam pohon bernilai ekonomi tinggi ?
4 . Apa
saja yang termasuk pohon bernilai ekonomi tinggi ?
5 .
Bagaimana potensi dari produk yang dihasilkan oleh spesies pohon bernilai
ekonomi
tinggi tersebut ?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian pohon bernilai ekonomi tinggi.
2. Untuk mengetahui dan mengenali jenis pohon dapat dikatakan bernilai ekonomi
tinggi.
3. Untuk mengetahui cara menanam pohon bernilai ekonomi tinggi.
4. Untuk mengetahui apa sajakah yang termasuk pohon bernilai ekonomi tinggi.
5. Untuk mengetahui potensi produk yang dihasilkan oleh spesies tersebut.
ISI
2.1 Pengertian dari Pohon Bernilai Ekonomi Tinggi
Pohon bernilai ekonomi tinggi adalah pohon yg dapat dimanfaatkan baik daun, akar, maupun batang yang memiliki harga jual tinggi dan dapat menjadi penghasil devisa baik untuk negara maupun individu.
2.2 Jenis Pohon dapat Dikatakan Bernilai Ekonomi Tinggi
Dalam suatu komunitas tumbuhan hutan terjadi interaksi
antar spesies anggota populasi. Misalnya ada spesies tumbuhan yang harus hidup
menumpang pada tumbuhan lain, ada pula yang membutuhkan naungan dari tumbuhan
lain untuk hidup, sehingga mereka dapat tumbuh berdampingan membentuk sebuah
komunitas hutan. Hubungan ketertarikan untuk tumbuh bersama ini dikenal dengan
asosiasi, yang dapat bersifat positif, negatif, atau tidak berasosiasi.
Asosiasi positif terjadi bila suatu jenis tumbuhan hadir bersamaan dengan jenis
tumbuhan lainnya; atau pasangan jenis terjadi lebih sering daripada yang
diharapkan. Asosiasi negatif terjadi bila suatu jenis tumbuhan tidak hadir
bersamaan dengan jenis tumbuhan lainnya; atau pasangan jenis terjadi kurang
daripada yang diharapkan. Informasi ini penting sebagai bahan pertimbangan
dalam upaya untuk mengoptimalkan budidaya eboni. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui asosiasi jenis eboni (Diospyros
spp.) dengan pohon-pohon dominan di CA.Tangkoko pada ketinggian dibawah 500
m dpl dan diatas 500 m dpl. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari
asosiasi antara eboni (Diospyros spp.).
2.3 Bagaimana Menanam Pohon Bernilai Ekonomi Tinggi
Komoditas unggulan yang akan dikembangkan harus memiliki
fungsi konservasi, kesesuaian tempat tumbuh, dan memiliki nilai ekonomi tinggi
untuk menunjang kesejahteraan masyarakat. Agroforestri adalah sistem penggunaan
lahan yang mengkombinasikan pepohonan dengan tanaman pertanian pada waktu yang sama
dan simultan untuk meningkatkan keuntungan, baik secara ekonomis maupun
lingkungan. Sistem agroforestri bertujuan untuk mempertahankan jumlah dan
keragaman produksi lahan, sehingga berpotensi memberikan manfaat sosial,
ekonomi dan lingkungan bagi para pengguna lahan. Pada sistem ini, terciptalah
keanekaragaman tanaman dalam suatu luasan lahan sehingga akan mengurangi risiko
kegagalan dan melindungi tanah dari erosi serta mengurangi kebutuhan pupuk atau
zat hara dari luar kebun karena adanya daur ulang sisa tanaman. Tanaman aren
sangat cocok pada kondisi landai dengan kondisi agroklimat beragam seperti
daerah pegunungan dimana curah hujan tinggi dengan tanah bertekstur liat
berpasir.
2.4 Yang Termasuk Pohon Bernilai Ekonomi Tinggi
·
Pohon Kapur (Dryobalanops aromatic)
Kapur merupakan penghasil kayu penting karena
bernilai ekonomi tinggi. Kayu kapur yang berukuran sedang cocok untuk bangunan
konstruksi, untuk membuat tiang, perkapalan, lantai, perabotan, panel jendela,
pintu, dinding, dan gerbong kereta. Kapur juga menghasilkan kristal kapur dan
oleoresin yang digunakan untuk pengobatan tradisional. Dryobalanops spp. Dikelompokan dalam suku Dipterocarpaceae. Penyebarannya mulai dari Aceh, Sumatera Utara,
Sumatera Barat, Riau dan seluruh Kalimantan. Dryobalanops juga dikenal dengan nama Kapur, diantaranya yang
penting adalah: D. aromatica Gaertn.
(Kapur singkel), D. fusca V.Sl.
(Kapur empedu), D. lanceolata Burck
(Kapur tanduk), D beccarii Dyer
(Kapur sintuk), D. rappa Becc. (Kapur
kayat), D. keithii Symington (kapur
gumpait), dan D. oblongifolia Dyer
atau kapur keladan.
·
Pohon Kayu Manis (Cinnamomum verum)
Kayu manis merupakan salah satu
rempah-rempah yang paling banyak digunakan sejak dahulu kala. Dikenal dengan
aroma khasnya yang memberikan cita rasa unik pada masakan, serta berbagai
khasiat kandungannya bagi kesehatan, kayu manis menjadi salah satu jenis rempah-rempah
favorit di dunia. Sebagian negara bahkan menyebut kayu manis sebagai “The Taste
of Life”. Tanaman kayu manis mempunyai sifat khas pedas, agak manis dan
menghangatkan yang berkhasiat analgesik, stomakik serta aromatik.
Khasiat lain dari kayu manis
adalah memiliki aktivitas antioksidan karena didalam ekstrak kayu manis
terdapat senyawa sinamaldehid, eugenol, trans asam sinamat, senyawa fenol, dan
tanin. Antioksidan merupakan senyawa yang mampu mencegah ketengikan dan
menghambat reaksi oksidasi pada bahan yang mengandung lemak atau minyak.
Penambahan kayu manis pada selai bertujuan sebagai antioksidan alami dan
pengawet alami makanan. Kayu manis juga merupakan rempah-rempah untuk bahan
masakan.
Kayu manis mengandung minyak
atsiri yang mempunyai daya bunuh terhadap mikroorganisme (antiseptis),
membangkitkan selera atau menguatkan lambung juga memiliki efek untuk
mengeluarkan angin. Dalam pengolahan bahan makanan dan minuman minyak kayu
manis di gunakan sebagai pewangi atau peningkat cita rasa, diantaranya untuk
minuman keras, minuman ringan (softdrink), agar–agar, kue, kembang gula, bumbu
gulai dan sup. Banyak hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan nilai produk
kayu manis. Cara yang paling sederhana adalah dengan mengeringkan kayu manis
dan menumbuknya menjadi serbuk. Serbuk tersebut bisa digunakan secara langsung
untuk memberikan cita rasa dan aroma pada makanan, khusus nya pada selai.
·
Kayu ulin (Eusideroxylon zwageri)
Kayu ulin sangat kuat dan awet,
sehingga digolongkan dalam kelas kuat dan kelas awet I. Kayu ulin digunakan
untuk berbagai keperluan, seperti pondasi bangunan di dalam air dan lahan
basah, atap rumah (sirap) dan tiang. Di Banjarmasin fosil kayu ulin dijadikan
batu cincin dan perhiasan.
Permintaan kayu ulin semakin meningkat seiring
dengan laju pertambahan penduduk dan pesatnya pembangunan gedung dan perumahan.
Kondisi ini mengancam kelestarian pohon ulin, karena sumber bahan baku kayu
ulin hanya diambil dari hutan alam tanpa memperhatikan kelestariannya. Potensi
kayu ulin pada awalnya cukup besar dan mudah ditemui di hutan, namun saat ini
sudah semakin menipis bahkan pada beberapa tempat sudah langka dan sulit
ditemukan
2.5 Potensi Produk Yang Dihasilkan dari Spesies Pohon Bernilai Ekonomi Tinggi
·
Pohon Kapur (Dryobalanops aromatic)
Kayu Dipterocarpaceae mempunyai
nilai ekonomi yang tinggi, sehingga menguasai perdagangan kayu internasional,
khususnya di Asia Tenggara. Selain kayunya, famili Dipterocarpaceae juga
memiliki beberapa produk minor non kayu seperti minyak, damar, resin, dan
kamper. Kamper (kapur barus) dihasilkan oleh Dryobalanops aromatica terutama di
daerah Sumatera Utara dan Johor. Populasi jenis Dipterocarpaceae tak terkecuali
kamper saat ini sedang mengalami degradasi yang sangat cepat. Hal ini
disebabkan proses pembalakan yang terjadi secara terus menerus dengan skala
besar, sehingga dapat berakibat terhadap keberadaan jenis tersebut. Saat ini
Kapur termasuk salah satu tanaman langka di Indonesia .Bahkan International
Union for the Concervations of Nature (IUCN) Red List memasukkannya dalam
status konservasi vulnerable atau rentan. Status ini merupakan status
keterancaman dengan tingkatan paling tinggi sebelum akhirnya dinyatakan punah.
·
Pohon Kayu Manis (Cinnamomum verum)
Minyak kayu manis merupakan salah
satu minyak atsiri yang permintaannya cukup tinggi di pasar internasional.
Minyak cengkih dihasilkan dari distilasi uap (penyulingan) bunga, tangkai, dan daun
kayu manis. Spesifikasi minyak kayu manis tidak hanya ditentukan oleh kandungan
eugenolnya, tetapi juga komponen lain seperti eugenol asetat dan kariofilen.
Rata-rata produktivitas tanaman berkisar antara 40-60% dari potensi
produksinya. Rendahnya produktivitas disebabkan petani menggunakan benih asalan
serta tidak melakukan pemupukan maupun pengendalian organisme
pengganggu tanaman
·
Kayu ulin (Eusideroxylon zwageri)
Potensi hutan
alam ulin di Pulau Kalimantan saat
ini menurun secara
drastis dibandingkan dengan keadaan pada awal 1970-an. Potensi pohon
ulin di hutan alam per hektar bervariasi antara 9,17-54 pohon. Penurunan potensi disebabkan berbagai faktor seperti penebangan pohon
ulin yang berdiameter kurang dari yang telah ditetapkan yaitu diameter
50 cm setinggi dada (1,30 m). Penyebab lainnya termasuk akses jalan ke hutan
alam seiring dengan kegiatan pembalakan
oleh perusahaan yang
memiliki ijin HPH/IUPHHK.
Jenis ulin tumbuh bersama sama
dengan jenis Dipterocarpaceae seperti meranti
merah, meranti putih, meranti kuning, bangkirai, kapur dan
jenis rimba campuran (medang, nyatoh, dan lain-lain). Jenis-jenis pohon
tersebut ditebang kecuali ulin dan jenis
yang dilindungi seperti
tengkawang.
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Pohon bernilai ekonomi tinggi adalah pohon yg dapat dimanfaatkan baik daun
, akar, maupun batang yang memiliki harga jual tinggi.
2. Jenis pohon yang dapat dikatakan bernilai ekonomi ialah memiliki kualitas kayu yang baik, hasil
non kayunya merupakan bahan utama pembuatan suatu produk dan dapat dimanfaatkan
sebagai obat.
3. Kondisi curah hujan, tekstur tanah dan cahaya matahari yang baik haruslah
diperhatikan dalam penanaman pohon.
4. Jenis pohon bernilai ekonomi tinngi ialah kayu kapur, kayu ulin dan kayu
manis.
5.
Produk yang dihasilkan adalah kamper
(kayu kapur), minyak atsiri (kayu manis) dan kayu ulin yang sangat dimanfaatkan
untuk bahan industri kayu.
3.2 Saran
Sebaiknya praktikan menggunakan refrensi yang tepat untuk
menunjang keakuratan informasi dalam makalah agar tidak menimbulkan kesalah
pahaman bagi pembaca ataupun pengulas makalah.
DAFTAR PUSTAKA
Baskara M,
Wicaksono KP. 2013. Tumbuhan Ficus: Penjaga KeberlanjutanBudaya
dan Ekonomi di Lingkungan Karst. Prosiding
Temu Ilmiah IPLBI.
Bustaman S. 2016.
Potensi Pengembangan Minyak Daun Cengkih Sebagai Komoditas Ekspor Maluku. Jurnal Litbang
Pertanian, 30(4): 132-139.
Ekaputri F. 2018. Pengaruh Perbandingan Kulit dan Sari Lemon dan Konsentrasi Kayu Manis Terhadap Karakteristik Selai Lemon (Citrus limon burm f.). Fakultas Teknik Universitas Pasundan, Bandung.
Harahap AS. 2018. Uji kualitas dan Kuantitas DNA Beberapa Populasi Pohon Kapur
Sumatera. JASA PADI, 2(2): 1-6.
Heru DR,
Susi A, Ragil BWMP. 2019. Kajian Sengon (Paraserianthes
falcataria) Sebagai Pohon
Bernilai Ekonomi dan Lingkungan. Jurnal
Penelitian Hutan Tanaman, 6(3): 201-208.
Irundu D,
Arafat A, Rhamania. 2018. Nilai Ekonomi Langsung Berbagai Sistem Pengelolaan Hutan Rakyat di Desa
Mirring, Kabupaten Polman, Sulawesi Barat.
Jurnal Hutan dan Masyarakat, 10(1):
185-191.
Mayasari A, Kinho J, Suryawan A. 2012. Asosiasi Eboni (Diospyros
spp.) Dengan Jenis-Jenis Pohon Dominan di
Cagar Alam Tangkoko Sulawesi Utara. Info Balai Penelitian Kehutanan
Manado, 2(1):15-72.
Pradjadinata S, Murniati M. 2014. Pengelolaan dan Konservasi
Jenis Ulin (Eusideroxylon zwageri Teijsm. &
Binn.) di Indonesia. Jurnal Penelitian Hutan dan
Konservasi Alam, 11(3),
205-223.
Purba PR. 2020. Aspek Ekologi dan Potensi Kapur (Dryobalanops aromatica) di Sumatera Utara. Jurnal
Akar, 9(2): 115-126.
Widiyatno W, Soekotjo S,
Suryatmojo H, Supriyo H, Purnomo S,
Jatmoko J. 2014.
Dampak Penerapan Sistem Silvikultur Tebang Pilih Tanam Jalur Terhadap
Kelestarian Kesuburan Tanah Dalam Menunjang Kelestarian Pengelolaan
Hutan Alam (the Impact of Selective Cutting and Strip Planting
System Implementation Toward Sustainability of Soil). Jurnal Manusia dan
Lingkungan, 21(1): 50-59.

Komentar
Posting Komentar